Jangan Men-“Judge” Orang Terlalu Cepat

Kita kadang melihat orang secara fisik dan kita langsung dengan cepat mengambil kesimpulan bahwa orang ini mungkin “kaya/miskin”,”Bodoh/pintar” dan banyak hal yang kita hakimi dengan cepat tanpa mengetahui kondisi dari seseorang tersebut dengan benar.

grayscale photo of man lecturing children

Meski susah, cobalah kita mengubah kebiasaan ini.  Ada sebuah cerita di mana seorang guru mengajar anak-anak TK. Ia mengajarkan matematika dan memberikan perumpamaan. Ia senang dengan jawaban dari anak-anak didiknya hingga ada seorang anak yang menjawab “salah”. Guru ini mengatakan bahwa “Bila aku punya 5 apel dan memberikan 2 kepadamu, berapa yang aku miliki” sang anak menjawab “3”. Lalu pertanyaan susulan dilontarkan oleh guru tersebut “bila aku memiliki 6 mangga dan aku membaginya kepadamu setengah, berapa mangga yang kamu miliki?” sang anak menjawab “4”. Sang guru kecewa dan mengatakan bahwa jawabanmu salah dan mencoba menjelaskan ulang bahwa bila 6 dibagi 2 maka hasilnya adalah 3, bukan 4. Setelah itu ia bertanya pada muridnya yg satu ini, “berapa 4 dibagi 2?” dengan cepat muridnya menjawab “2”. Merasa senang guru ini mengulangi pertanyaan yang sama dengan perumpamaan, “Sekarang kalau aku punya mangga 4 dan aku bagi setengahnya dengan kamu, berapa mangga yang kamu miliki?” Sang murid menjawab “3”. Guru ini geram dan merasa dipermainkan sehingga ia menghukum muridnya hingga jam istirahat.

Saat jam istirahat guru ini memanggil murid tersebut dan bertanya, soal yang sama “kalau aku punya mangga 4 dan aku bagi setengahnya dengan kamu, berapa mangga yang kamu miliki?”. Murid yang dihukum ini melihat dan menjawab dengan takut “3”. Guru ini ingin marah, sambil mengeluh dia berkata “Kenapa kamu bisa jawab 3”. Murid itu berkata “Karna saya sudah punya 1 mangga di tempat makan siang saya”. Sang guru kaget mendengar jawaban anak itu. Marah yang dimiliki oleh guru itu berubah menjadi rasa malu. Ia pun meminta maaf kepada muridnya dan mengatakan bahwa muridnya telah menjawab dengan benar.

close up court courthouse hammer

Kita lihat disini bahwa ketika 4 dibagi 2 jawabannya adalah 2. Ini adalah sebuah kebenaran dan anak muridnya menjawab 3 karena ia memiliki 1 mangga di dalam tempat makan siangnya ini juga adalah sebuah kebenaran. Kita lahir dengan kondisi yang berbeda, hidup dengan lingkungan yang berbeda dan selalu berasumsi bahwa kebenaran ada di dalam diri tanpa melihat kebenaran yang dimiliki orang lain. Kebenaran orang lain bisa salah. Tapi lihat dahulu kondisi yang dimiliki oleh orang itu, lihat kondisi sekitar. Jangan sampai kebenaran yang kita miliki merusak masa depan orang lain, atau membuat kita menghina orang lain. Orang yang kita temui di masa lalu bisa jadi sudah berubah bila kita bertemu dengannya sekarang. Kebenaran yang benar benar benar ada di dalam Tuhan, pelajarilah itu dan tingkatkan kerohanianmu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.