Jangan Menjadi Orang Egois, Tapi Sekali-kali Egois Perlu Untuk Kesehatanmu

Saya akhir-akhir ini mengalami kelelahan mental, tidak sampai meledak tetapi memberikan tanda-tanda kebocoran. Maksud saya adalah emosi saya, ketika banyak orang saat meledak marah-marah saya belum sampai tahap itu. Hanya saja saya susah menjadi sabar dan perkataan saya menjadi kasar. Ada beberapa hal yang saya sadari.

Saya Bukan Pusat Dunia

Saya bekerja dan memiliki prinsip layani sesama, untuk beberapa saat prinsip ini tidak masalah hingga ada yang memanfaatkannya. Emosi yang menumpuk bukanlah hal yang baik, saya mencoba bersabar dengan tekanan-tekanan yang ada tetapi ternyata saya kurang bersabar.

Saya melihat bahwa saya harusnya bekerja dengan baik diantara teman-teman saya,  saya bekerja untuk kepentingan bersama dan saya melihat teman-teman saya menunjukan komitmen yang sama. Untuk beberapa saat saya rasa kami semua akan menjadi rekan yang baik dan bisa berjuang bersama untuk pekerjaan yang kami jalani.

Masalah mulai muncul, saya melihat yang saya lakukan adalah untuk kepentingan bersama. Artinya kepentingan bersama bagi saya adalah saat berhasil maka saya tidak akan dipuji-puji atau diberi bayaran lebih, malah kami semua akan merayakannya dan berbahagia bersama. Saya melihat komitmen mereka, melihat semangat mereka dan mulai sakit hati. Mengapa? karena seiring berjalannya waktu saya mulai mengerti siapa yang berkomitmen dan bersemangat saat ada boss saya. Mulailah terjadi konflik. Konflik di sini bukan pertengkaran, hanya sekedar perbedaan pemikiran.

Kamu Tidak Bisa Berkomitmen Sendirian, Sementara Temanmu Hanya Berkomitmen untuk Menyenangkan Bossmu

pexels-photo-278312.jpeg

Pertamanya, saya mencoba mengerti kondisi teman saya, seperti “oh iya, dia sibuk” lalu saya mulai mengatakan “Bagaimana kalau saya bantu kamu?”. Tujuan saya waktu itu murni membantu, akan tetapi terjadi penolakan. Kemudian saya melihat bahwa apa yang digarap tidak ada perkembangan dan saya menawarkan beberapa ide yang disetujui oleh boss saya. Ide ini digunakan pada salah satu produk yang dibuat teman saya. Saya pikir seharusnya tidak masalah, dia berkembang dan boss makin suka dengan produk dia. Disinilah saya salah.

Semua yang saya lakukan hanyalah menambah pekerjaan dia. Teman saya ini tidak pernah berpikir untuk mengikuti perkembangan, dan merasa apa yang sudah dia buat sangat bagus. Justru saya berlaku egois dan memberi dia pekerjaan. Saya berpikir “Aah, perasaan saya saja. Dia mungkin tidak begitu. Saya berpikir terlalu negatif”. Disini saya salah lagi.

Saya pergi ke teman saya yang lain yang membuat komitmen yang sama dengan teman saya yang sebelumnya di hadapan boss. Saya mempunyai harapan bahwa dia akan berpegang pada komitmennya. Tetapi apa yang terjadi diluar perkiraan dan harapan saya. Saya harus mengkejar-kejar dia untuk menyelesaikan pekerjaannya. Saya akhirnya tidak mau memberi dia sebuah jadwal yang ketat. Mengingat kesibukan dari pekerjaannya. Ternyata dengan jadwal yang longgar pun saya hanya memperoleh kekecewaan.

Awal Mula Kelelahan Mental.

Pertama adalah komitmen mereka yang seperti uap, sementara kelihatan lalu menghilang. Kedua, saya mulai mengenal mereka dengan lebih baik. Semakin saya perhatikan mereka, saya menemui kenyataan bahwa mereka sibuk hanya saat saya mengingatkan komitmen mereka. Mereka sibuk bila saya mengingatkan yang harus mereka kerjakan. Saya mencoba bersabar dan meyakinkan diri saya bahwa mereka benar-benar sibuk. Saya bilangi kalian berbohong pada diri membuat mental mu lelah.

pexels-photo-703009.jpegSaya juga menyadari bahwa saya bekerja dan pekerjaan itu bisa bertambah sewaktu-waktu. Saya memperoleh sebuah pekerjaan baru, di mana kita bilang saja saya tidak akan diberi bayaran tambahan meski saya telah mengerjakan. Kelelahan berikutnya yang saya peroleh adalah dari ketidak-tahuan akan pekerjaan yang saya peroleh. Kemudian ada teman saya yang menjelaskan dengan baik, sehingga saya berpikir bahwa pekerjaan ini layak dikerjakan demi kepentingan semua. Maka saya mulai mengerjakan dan mengumpulkan semua yang sudah saya kerjakan.

Sebuah Tagihan yang Tidak Adil

pexels-photo-196639.jpegSaya sudah lebih lega dengan kerjaan baru yang diberikan ke saya karena sudah saya selesaikan. Lalu saya bertanya kepada rekan-rekan yang diberikan pekerjaan yang sama seperti saya dan mereka tidak mengerjakan. Anggaplah saya mengerjakan 20 dan mereka belum mengerjakan aau masih 0. Sekali lagi saya berpikir bahwa mereka mungkin sibuk. Tetapi saya tidak marah kepada teman-teman yang tidak mengerjakan. Saya marah karena tagihan yang tidak adil. Saya ditagih lagi mengenai pekerjaan saya. “Bukankah saya sudah mengumpulkan? Apakah masih kurang? Perlu seberapa banyak?” Jawaban yang saya peroleh kembali tidak jelas dan hati saya kembali panas.

Karena saya mengetahui bahwa saya telah memberikan 20 dan teman-teman saya yang lain ada yang belum memberikan apapun. Saya ditagih lagi. Haloooo, ini tidak adil. Tapi saya menahan diri dan membuat beberapa lagi sehingga anggaplah apa yang saya kerjakan menjadi 35. Saya kumpulkan dan berharap pekerjaan saya akan berguna dan saya bisa menjadi berkat.

Sakit Hati Adalah Saat Kamu Memberikan Semampumu dan Tidak Dipakai

Saya tidak melihat dengan bahwa dengan sakit hati yang saya peroleh, meskipun pekerjaan saya bukan yang terbaik tapi apa yang saya kerjakan dapat digunakan. Di sini saya salah lagi. Sampai sekarang saya berharap apa yang saya kerjakan dapat digunakan. Tetapi seiring berjalannya waktu, saya melihat itu hanyalah harapan saya saja dan tanpa saya sadari beban mental saya makin penuh.

Saya mulai berpikir “Ah, sudahlah” dan mulai mengembalikan tempo kehidupan saya. Mulai menyembuhkan sakit-sakit hati yang saya peroleh. Tapi hal ini juga tidak berjalan baik. Saya mengambil hak saya, sebuah bayaran karena saya memperoleh tugas keluar kota. Saya mendapat omelan yang saya rasa tidak perlu. Saya ingin marah dengan berkata “KAMU HANYA ADMIN, TIDAK USAH BANYAK BICARA ATAU SOK MENASEHATI”. Setelah itu ada kejutan tambahan, hak yang saya peroleh dipotong. Alhasil saya langsung meninggalkan tempat tersebut karena saya takut meledak di sana. Saya tidak menanyakan alasan pemotongan tersebut.

Semua ini berlangsung berturut-turut. Bahkan saya menerima beberpa orang yang berkonsultasi pada saya. Saya mengetahui bahwa mereka telah berkonsultasi pada teman saya yang lain dan teman saya mengatakan bahwa mereka tidak bisa menerima konsultasi. Kemudian saya tahu beberapa berbohong. Yeah, hal-hal ini sangat baik dalam menyembuhkan luka hati(Sarkas).

Sekali Lagi Saya Bukan Pusat Dunia, Tapi Menjadi Egois Sementara Itu Baik

Ini yang saya pikirkan dan terus pikirkan, saya harusnya membantu orang-orang ini. Mental saya kelelahan dan saya mulai berbicara dengan hal yang menyebalkan. Sehingga ada yang mengatakan bahwa “Saya tidak ke gereja karena saya kecewa dengan orang yang ke gereja, kelakuannya sama saja dengan orang yang tidak ke gereja”. Pertamanya saya tidak berpikir apapun dan saya sedikit setuju. Lalu saya merefleksi diri dan menemukan kebalikan dari pemikiran tersebut. Artinya “Apa yang terjadi pada kalian, bila saya tidak ke gereja?” Orang berpikir bahwa gereja tempat orang-orang suci. Tetapi saya melihat diri saya, saya pendosa dan bertobat kemudian beribadah di gereja.

pexels-photo-568025.jpegGereja saya membantu saya untuk selalu ingat untuk mengkontrol diri. Saya percaya bila saya tidak ke gereja dengan rajin mungkin saya sudah memukul beberapa rekan saya dan saya sudah lama marah-marah seperti orang gila. Perkataan yang mengatakan “kelakuannya sama saja dengan orang yang tidak ke gereja” adalah hal yang salah. Karena gereja bukan lah tempat orang-orang suci, dan saya ingin mengatakan bahwa “kelakuan orang tidak ke gereja itu sperti kamu. Sebaik apapun orang ke kamu, kamu cuma berpikir memang itu sudah sepantasnya mereka lakukan untuk kamu” Saya tidak mengatakan hal itu, karena saya ke gereja. Saya tidak akan adu mulut. Saya mulai berpikir diam saja. Disini lah saya egois.

Saya melihat banyak sekali hal-hal salah yang dilakukan teman saya, saya mulai diam. Saya melihat beberapa membangun kubur mereka sendiri dalam keuangan, saya diam. Saya juga diam melihat perkembangan komitmen saya dan teman-teman saya. Saya tahu bahwa menulis ini adalah hal yang egois pula. Saya juga akan melepaskan diri dari komitmen yang saya buat dihadapan boss saya. Bertindak lebih egois dengan tidak peduli dan hanya menjalankan komitmen pribadi saya di dunia pendikan.

Tenang saja, selama teman-teman saya sejalan dengan komitmen dunia pendidikan saya akan membantu mereka. Karena saya bukan pusat dunia, saya harus memikirkan yang terbaik untuk orang-orang yang saya ajar dan bila teman saya kesusahan, selama itu berhubungan dengan dunia pendidikan saya akan bantu. Saya merasa egois seperti ini perlu untuk sementara waktu. Seperti menulis kan hal ini adalah egois, tetapi ini membantu menenangkan jiwa dan mengurngi beban mental.

Saya juga melihat hal ini sebagi proses Tuhan untuk membentuk saya. Kiranya saya makin diberikan kesabaran dan kekuatan.

 

Iklan

2 respons untuk ‘Jangan Menjadi Orang Egois, Tapi Sekali-kali Egois Perlu Untuk Kesehatanmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.