Thank You

kali ini saya akan menuliskan perasaan saya tentang rasa terima kasih.

pernahkah kita menunjukan rasa terima kasih kita pada orang? apakah ucapan saja cukup? akhir-akhir ini saya menyadari apa yang dilakukan oleh orang pada yang ada pada diri saya sehingga saya memiliki banyak perubahan dan menjadi orang yang seperti sekarang. entah itu kritik dan saran, saya kadang dibutakan dengan ego saya sendiri sehingga saya merasa dia menghina saya. dan saat saya sadar akan hal itu saya memperbaiki diri saya bedasarkan kritik dia dan menerima sarannya, dan hei saya menjadi orang yang lebih baik dan tidak hanya itu, saya juga bisa membantu orang lebih baik, kalau ditanya apa perubahan yang paling besar atau apa yang paling saya rasakan, itu adalah KEBAHAGIAAN.

saat saya menyadari semua itu, kadang sudah terlambat dalam artian saya sudah tidak bisa melakukan sesuatu untuk memberitahu dia bahwa saya bersyukur dan mengucapkan terima kasih pun tidak bisa.

beberapa hal yang saya syukuri adalah mulutnya yang benar dan menyakitkan. akan tetapi itu hal yang benar seringkali kenyataan adalah hal yang menyakitkan dan kita memalingkan muka kita agar tidak sakit, bahkan walaupun penyakit tersebut telah menggerogoti kita. saya dulu seperti itu, sering menipu diri dengan mengatakan “saya tidak sakit, saya sehat” dan tidak mau melihat badan saya sendiri. ketika dia melihat dia mengatakan kebenaran dan seperti biasa saya tidak mendengar akan tetapi lama-kelamaan saya sadar, karena penyakit tersebut memberikan rasa sakit yang tak terelakan. kebanyakan dari kita tak mau mendengar dan yang kedua adalah kita tak mau melihat diri kita.

kita lebih suka melihat orang lain. apakah ini buruk? ya dan tidak, tidaklah buruk melihat seseorang yang lebih baik dari kita dan kita belajar dari dia. sehingga suatu saat keluar perkataan “saya IRI dengan RAJINNYA, dengan KEULETANNYA, saya ingin seperti dia, saya ingin belajar jadi dia, dia idola saya”.  melihat orang lain menjadi buruk saat kita melihat dan mengatakan “AKU lebih BAIK dari dia”  dan saat ada yang mengatakan kita salah, kita menutup telinga rapat-rapat dan membuka telinga lebar-lebar saat ada orang yang memuji kita.

teman saya adalah orang berkata jujur, pada awalnya saya tidak suka, saya merasa sakit akan tetapi saya mendengarkan dia, dan saat saya sudah menjadi seperti sekarang, saya sadar di saat saya senang sekali dia tidak ada, tetapi di saat saya sedih dia selalu ada dan saat  saya ingin mengucapkan rasa terima kasih saya semua sudah terlambat, karena dia sudah tiada di dunia ini. penyesalan saya adalah saya menjadi orang yang baik dan benar dalam waktu yang sangat pelan, dan yang bisa saya janjikan pada dia adalah saya akan terus belajar dan menjadi orang yang lebih baik.

Yang terakhir kita seringkali menerima dan itu menjadi kebiasaan kita sehingga saat ditanya kita mengatakan “bukankah memang itu yg harus diberikan”. saat saya sakit mata dan tidak bisa melihat, saya menyadari bahwa saya tidak bersyukur dengan yang saya miliki, saya baru tahu bahwa melihat dengan 1 mata saya lebih susah melakukan banyak hal bahkan hanya menaruh pasta gigi pada sikat gigi saya kesusahan dan sering meleset. saat sembuh saya merasa rasanya luar biasa bisa melihat lagi.

jadi sudahkah kita bersyukur pada apa yang telah diberikan pada kita? sudahkah kita berterima kasih pada orang-orang di sekitar kita?Tuhan berkati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s